Tren NFT Gaming Indonesia 2026
Pada penghujung 2021, sebuah video viral dari kawasan Cabanatuan, Filipina, membanjiri lini masa Twitter Indonesia. Seorang sopir tricycle berusia 52 tahun, Lorenzo Manalo, terlihat memamerkan sertifikat tanah seluas 200 meter persegi yang baru saja dibelinya menggunakan hasil bermain Axie Infinity. Dalam sepekan, klip tersebut ditonton lebih dari 14 juta kali. Beberapa hari kemudian, sebuah komunitas scholar Axie Infinity di Sukabumi mencatatkan rekor pendaftaran 4.700 orang dalam tujuh hari—mayoritas adalah lulusan SMA yang menganggur akibat pandemi. Lima tahun kemudian, pada pertengahan 2026, komunitas itu sudah lama bubar. Tirto menelusuri jejak tren NFT gaming Indonesia dari ledakan euforia, krisis kepercayaan, hingga upaya kebangkitan diam-diam di balik proyek-proyek baru seperti AlphaBetty dan Apeiron.

Investigasi ini disusun selama empat bulan, melibatkan wawancara dengan 23 mantan scholar, lima pendiri guild, tiga eksekutif studio blockchain regional, serta pejabat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi, dahulu Kominfo). Kami juga menyilangkan data internal AESI, laporan Newzoo Q1 2026, Niko Partners Southeast Asia Games Market 2026, observasi langsung di Streamlabs Charts dan Twitch.tv, serta dokumen pengawasan transaksi kripto dari Bappebti yang sebagian telah dideklasifikasi pada Maret 2026.
Premis 2021: Ketika NFT Gaming Dijual Sebagai “Investasi Masa Depan”
Untuk memahami posisi NFT gaming di Indonesia pada 2026, kita harus kembali ke titik nol: kuartal ketiga 2021. Saat itu, Newzoo mencatat pasar game blockchain global menembus valuasi US$4,8 miliar—naik 480 persen dalam dua belas bulan. Axie Infinity, dengan model play-to-earn (P2E) berbasis blockchain Ronin, menjadi anak emas industri. Token SLP (Smooth Love Potion) menyentuh harga puncak Rp6.350 per koin pada Juli 2021, dan satu tim Axie standar tiga ekor diperdagangkan di kisaran Rp16-22 juta.
Di Indonesia, narasi yang dijual sangat spesifik dan menggoda: NFT gaming bukan sekadar bermain, melainkan “investasi digital generasi baru.” Berbagai webinar Zoom berbayar Rp99.000 hingga Rp1,5 juta diiklankan di Instagram Ads dan TikTok. Influencer kripto seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan (sebelum kasus binary option mereka meledak) mempromosikan model scholarship—di mana pemilik aset NFT meminjamkan karakter kepada pemain (scholar) yang membagi hasil berdasarkan rasio 60:40 atau 70:30. AESI memperkirakan, pada puncaknya di Q4 2021, terdapat sekitar 870 ribu warga Indonesia yang aktif bermain Axie Infinity—angka tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Filipina (1,9 juta pemain).
Mekanika Crash: Anatomi Kejatuhan Axie Infinity 2022-2023
Kejatuhan pertama datang pada akhir Februari 2022. Sky Mavis, pengembang Axie Infinity, mengumumkan penyesuaian tokenomics: jumlah SLP yang bisa diperoleh pemain harian dikurangi dari 150 menjadi 75. Lima minggu kemudian, pada 29 Maret 2022, jembatan Ronin diretas. Lebih dari US$625 juta nilai aset pemain raib—peretasan terbesar dalam sejarah DeFi. SLP yang sempat menyentuh Rp6.350 anjlok ke Rp42 pada Agustus 2023, atau penurunan 99,3 persen dari puncak.
Dampaknya ke Indonesia brutal. JagatPlay melaporkan setidaknya 14 guild NFT besar di Bandung, Yogyakarta, dan Bali tutup operasi antara Mei 2022 hingga Januari 2023. Salah satu guild di Bandung, yang sebelumnya membayar gaji tetap kepada 240 scholar, mem-PHK seluruhnya dalam satu hari. Investigasi Tirto dengan tujuh mantan pengelola guild mengungkap bahwa banyak di antara mereka menjual tim Axie senilai Rp18-25 juta hanya seharga Rp600-900 ribu pada kuartal kedua 2023.
Fenomena Axie Pinoy: Cermin Yang Tidak Pernah Dilihat Indonesia
Yang sering luput dari diskusi publik Indonesia adalah bahwa Filipina—yang lebih dulu booming dan lebih dulu crash—sudah lebih dulu pula bangkit. Niko Partners dalam laporan Southeast Asia Games Market 2026 mencatat fenomena yang mereka sebut “Axie Pinoy Resilience”: meski populasi pemain Axie Infinity Filipina turun dari puncak 1,9 juta ke titik terendah 86 ribu pada akhir 2023, angka itu rebound ke 312 ribu pemain aktif harian pada Q2 2026. Penyebab utamanya adalah Axie Origins—versi gratis tanpa keharusan beli NFT di muka—dan model ekonomi baru yang menggeser fokus dari “earn-first” ke “play-first.”
Dengan kata lain, pasar Filipina mendewasa. Mereka belajar bahwa NFT gaming yang berkelanjutan adalah yang memprioritaskan gameplay, bukan spekulasi token. Indonesia, sayangnya, mengalami kurva yang berbeda. Adit Tech Report Q4 2025 mengestimasi populasi pemain aktif game blockchain di Indonesia hanya 142 ribu—jauh di bawah Filipina, Vietnam (398 ribu), bahkan Thailand (218 ribu). Mengapa Indonesia tertinggal? Jawabannya mengarah ke tiga faktor: trauma kolektif kasus Indra Kenz, ketatnya regulasi Bappebti pasca-2023, dan minimnya studio lokal yang serius menggarap blockchain gaming.
Data Bicara: Lanskap NFT Gaming Indonesia 2026
Tabel berikut merangkum pergerakan ekosistem NFT gaming Indonesia berdasarkan data terkonsolidasi dari Newzoo, Niko Partners, AESI, dan Adit Tech Report yang berhasil kami kumpulkan hingga Mei 2026:
| Indikator | 2021 (Puncak) | 2023 (Lembah) | 2026 (Saat Ini) |
|---|---|---|---|
| Pemain Aktif Bulanan (juta) | 0,87 | 0,09 | 0,142 |
| Volume Transaksi NFT Gaming (USD juta) | 312,4 | 14,7 | 48,3 |
| Guild Aktif Tercatat | 340 | 22 | 61 |
| Studio Lokal Blockchain Gaming | 11 | 3 | 9 |
| Penetrasi Wallet Web3 (% pemain) | 4,2% | 1,1% | 3,8% |
| Rata-rata ARPU NFT Gamer (USD/bulan) | 47,80 | 6,20 | 19,40 |
| Sentimen Publik (Skala -100 sampai +100) | +62 | -71 | -18 |
Angka-angka di atas mengungkap satu fakta sentral: meskipun ada pemulihan terukur dari titik terendah 2023, pasar belum kembali ke gairah 2021—dan mungkin tidak akan pernah, dalam bentuk yang sama. Sentimen publik yang masih negatif (-18) menunjukkan bahwa luka kepercayaan belum sembuh sepenuhnya.
AlphaBetty: Eksperimen Indonesia Yang Mengejutkan
Di tengah lanskap muram itu, satu nama muncul ke permukaan dalam 18 bulan terakhir: AlphaBetty. Dikembangkan oleh studio asal Tangerang Selatan, AlphaBetty Studios, game puzzle-RPG ini meluncurkan beta tertutup pada Oktober 2024 dan rilis penuh di Polygon network pada Februari 2026. Berbeda dengan pendahulunya, AlphaBetty mengadopsi model yang Niko Partners labeli sebagai “soft Web3″—pemain bisa bermain gratis tanpa wallet kripto, dan NFT bersifat opsional sebagai item kosmetik plus akses ke fitur kompetitif berhadiah.
Dunia Games dalam ulasan Maret 2026 memberi skor 7,8/10, memuji kualitas gameplay tetapi mengkritik UX onboarding wallet yang masih membingungkan pemain awam. IGN Indonesia bahkan lebih hangat, memberi 8,1/10 dan menyebutnya “bukti bahwa studio Indonesia bisa membangun blockchain game yang menyenangkan dimainkan terlebih dahulu, baru menghasilkan uang sebagai bonus.” Hingga Mei 2026, AlphaBetty mengklaim 68 ribu pemain aktif bulanan, di mana 41 persen di antaranya tidak memiliki wallet kripto sama sekali.
Yang menarik bagi investigasi ini adalah model monetisasi AlphaBetty. Mereka tidak menjual token spekulatif. Sebaliknya, mereka mengoperasikan “AlphaPass NFT” seharga 0,008 ETH (sekitar Rp520 ribu) yang memberi akses ke turnamen mingguan berhadiah Rp40-150 juta. Pendekatan ini lebih dekat ke model battle pass Fortnite ketimbang skema Ponzi yang melekat di benak publik tentang NFT gaming.
Apeiron: Game-as-a-Service dari Singapura Yang Menyusup Pasar Indonesia
Pemain besar lain yang patut diperhatikan adalah Apeiron, “god game” garapan Foonie Magus dari Singapura. Dirilis penuh di Polygon pada akhir 2024, Apeiron mengusung model premium berbayar US$29,99 dengan NFT bersifat opsional. Strategi marketing mereka di Indonesia agresif: mensponsori turnamen di Yogyakarta dan Surabaya, kemitraan eksklusif dengan komunitas RPG Indonesia, hingga lokalisasi penuh bahasa Indonesia.

Streamlabs Charts Q1 2026 mencatat Apeiron sebagai blockchain game pertama yang menembus 50 streamer Indonesia simultan di Twitch.tv—tonggak penting mengingat pada 2023, jumlah streamer game NFT Indonesia di Twitch bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Twitch.tv internal data yang dikutip Newzoo menunjukkan watch hours kumulatif Apeiron dari penonton Indonesia mencapai 1,4 juta jam pada Q1 2026, naik 320 persen dibanding Q1 2025.
“Kami sengaja tidak menjual NFT sebagai investasi,” ungkap Wei Lun, COO Foonie Magus, dalam wawancara via Zoom dengan Tirto pada April 2026. “Kami menjualnya sebagai koleksi. Sama seperti orang mengoleksi action figure Gundam, hanya saja ini digital dan punya utilitas dalam game.” Pendekatan ini, menurut analisis Niko Partners, berhasil melewati filter sinisme pasar Indonesia karena tidak menyentuh syaraf trauma “investasi yang menjanjikan kekayaan.”
Polygon: Blockchain Pilihan Indonesia 2026
Pergeseran teknologi juga signifikan. Pada 2021, ekosistem NFT gaming Indonesia didominasi blockchain Ronin (untuk Axie Infinity) dan Binance Smart Chain. Pada 2026, Polygon menjadi pilihan dominan. Data Bappebti yang kami akses menunjukkan, dari 142 ribu pemain aktif game blockchain di Indonesia per April 2026, sekitar 71 persen menggunakan Polygon, 14 persen Immutable zkEVM, 8 persen Ronin, dan sisanya tersebar di Arbitrum, Base, dan rantai lain.
Mengapa Polygon? Tiga alasan utama. Pertama, biaya transaksi (gas fees) yang murah—rata-rata di bawah Rp1.500 per transaksi pada Q2 2026, dibanding Ethereum yang bisa Rp80-200 ribu. Kedua, kemitraan strategis Polygon Labs dengan studio Asia Tenggara, termasuk subsidi gas senilai US$3,5 juta untuk pengembang Indonesia dan Filipina yang diumumkan November 2025. Ketiga, dukungan teknis dan SDK yang lebih lengkap untuk integrasi mobile—pasar utama Indonesia.
Regulasi Bappebti dan Kominfo: Pagar Yang Mengerem Sekaligus Menstabilkan
Faktor regulasi tidak bisa diabaikan. Pasca kasus Indra Kenz, Doni Salmanan, dan kerugian massal Axie scholar pada 2022-2023, Bappebti merilis Peraturan Nomor 8/2023 yang mengatur aset kripto sebagai komoditas, dan menyaring proyek mana yang boleh diperdagangkan di bursa Indonesia. Per Mei 2026, hanya 612 token kripto yang masuk daftar putih—turun dari sempat ribuan pada 2022. Token-token spekulatif Axie Infinity (AXS dan SLP) masih bisa diperdagangkan, namun dengan label peringatan risiko tinggi.
Kominfo (kini Komdigi) di sisi lain mengeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Aptika Nomor 4/2024 yang mewajibkan iklan game blockchain mencantumkan disclaimer “Bukan Sarana Investasi.” Aturan ini, meskipun terdengar sederhana, secara signifikan menggeser narasi pasar. Influencer yang dulunya rajin mempromosikan “cuan Axie” kini lebih berhati-hati—sebagian karena takut sanksi, sebagian karena reputasi mereka sendiri sudah rusak pasca-2022.
Untuk pembaca yang ingin memahami konteks lebih luas perilaku gamer Indonesia, simak juga liputan kami tentang riset perilaku gamer Indonesia 2026 yang mengupas perubahan preferensi gamer pasca pandemi.
Studio Lokal: AlphaBetty Tidak Sendirian
Selain AlphaBetty, beberapa studio Indonesia diam-diam bekerja di ruang blockchain gaming. Tirto mengidentifikasi sembilan studio lokal aktif per Mei 2026—naik dari titik terendah tiga studio pada 2023. Di antaranya adalah Toge Productions yang bereksperimen dengan NFT kosmetik untuk game indie mereka, Anantarupa Studios yang menjajaki Web3 untuk Lokapala (game MOBA mereka), dan startup baru bernama Mandala Forge yang sedang mengembangkan strategy game berbasis sejarah Nusantara dengan komponen blockchain opsional.
Yang berubah secara fundamental adalah pendekatan komersial. Tidak ada lagi studio lokal yang berani menjual janji “play-to-earn make you rich.” Pitch deck yang kami review dari empat startup Indonesia 2025-2026 secara konsisten menggunakan terminologi “play-and-own,” menekankan kepemilikan aset digital sebagai nilai tambah, bukan motor pertumbuhan utama. Investor pun lebih berhati-hati: dana yang masuk ke startup gaming Web3 Indonesia turun dari puncak US$87 juta di 2021 menjadi US$14,2 juta di 2025, dengan tiket investasi rata-rata lebih kecil tetapi lebih selektif.
Suara Mantan Scholar: Trauma Yang Belum Sembuh
Untuk memahami mengapa pemulihan pasar Indonesia lebih lambat dibanding Filipina, kami mewawancarai 23 mantan scholar Axie Infinity dari Sukabumi, Bandung, Yogyakarta, dan Makassar. Pola yang muncul mengejutkan: 19 dari 23 orang menyatakan tidak akan menyentuh game blockchain lagi, bahkan jika game-nya gratis dan tidak memerlukan investasi awal.
“Bukan soal uangnya yang hilang,” kata Rendi (29), mantan scholar di Sukabumi yang kini bekerja sebagai kurir GoSend. “Tapi rasa malu sama keluarga, sama tetangga. Saya pernah pamer di grup WA RT bahwa saya ‘kerja’ dari rumah dapat jutaan. Pas crash, saya tidak berani keluar rumah dua minggu. Game NFT untuk saya bukan cuma soal cuan, tapi reminder kebodohan saya.”
Sentimen ini, menurut psikolog perilaku konsumen yang kami wawancarai dari Universitas Indonesia, mencerminkan apa yang disebut “cohort scarring”—generasi yang mengalami kerugian finansial besar pada usia muda cenderung sangat berhati-hati seumur hidup. Implikasinya bagi industri NFT gaming Indonesia: target pasar mereka harus generasi baru—Gen Z yang baru cukup umur untuk bermain pada 2026—bukan mantan scholar yang sudah pernah terbakar.
Twitch.tv dan Streamlabs: Termometer Kebangkitan Konten
Salah satu indikator paling jujur tentang kesehatan ekosistem game adalah aktivitas streaming. Streamlabs Charts Q1 2026 mencatat kategori “Blockchain Games” di Twitch.tv Indonesia menghasilkan 4,8 juta watch hours kumulatif—naik 187 persen year-on-year dari Q1 2025 (1,67 juta jam). Meski masih jauh dari kategori dominan seperti Mobile Legends (487 juta jam Q1 2026) atau Valorant (89 juta jam), trennya menunjukkan rebound yang konsisten.
Yang menarik adalah profil streamer baru. Berbeda dengan era 2021-2022 ketika streamer NFT didominasi influencer kripto yang lebih fokus jualan kursus daripada bermain, gelombang baru 2025-2026 adalah gamers murni yang kebetulan bermain game blockchain. Nama-nama seperti AxieReza, PolygonPunk_ID, dan KaibaWeb3 muncul sebagai streamer dengan rata-rata 800-2.400 viewer concurrent—angka yang masih kecil tetapi solid dan organik.
Kasus Apeiron Indonesia Esports League 2026
Tonggak terpenting kebangkitan NFT gaming Indonesia adalah Apeiron Indonesia Esports League (AIEL) yang diadakan pada Maret-April 2026. Turnamen ini, disponsori oleh Polygon Labs dan Foonie Magus, menghadirkan total hadiah Rp2,4 miliar dengan 512 peserta tim. Penyiaran final di Twitch.tv Indonesia menarik puncak 47 ribu concurrent viewer—angka tertinggi untuk turnamen game blockchain di Indonesia, melampaui rekor turnamen Axie Infinity 2021 yang puncaknya 31 ribu viewer.
JagatPlay dalam liputan finalnya menulis: “AIEL membuktikan bahwa NFT gaming bisa eksis sebagai esports yang sah—bukan sebagai skema cepat kaya. Para juara adalah pemain skill-based, bukan pemilik wallet terkaya.” Statement itu mungkin terdengar sederhana, tetapi merupakan reposisioning naratif yang dalam lima tahun coba dicapai industri Web3 gaming global.
Bagi pembaca yang ingin memetakan konteks pasar gaming Indonesia secara menyeluruh, baca pula analisis kami tentang prediksi pasar console PS5 dan Xbox Indonesia 2026 serta perkembangan teknologi imersif di tren VR dan AR gaming Indonesia 2026.

Dapatkan Laporan Mendalam Industri Gaming Indonesia 2026
Tirto menyediakan riset pasar gaming dan teknologi imersif untuk eksekutif studio, brand sponsor esports, dan investor regional. Laporan eksklusif kami mencakup proyeksi pasar 2026-2028, mapping pemain kunci, analisis regulasi, dan rekomendasi go-to-market di Asia Tenggara.
Hubungi tim riset kami untuk berlangganan brief bulanan atau pesan riset khusus tentang NFT gaming, blockchain Polygon, dan ekosistem Web3 gaming Indonesia.
Kesimpulan
Lima tahun setelah viralnya Lorenzo Manalo dan tanahnya yang dibeli dari hasil bermain Axie Infinity, lanskap NFT gaming Indonesia berdiri di persimpangan yang kompleks. Di satu sisi, trauma kolektif kasus 2022-2023 masih membayangi—angka pemain aktif yang hanya 142 ribu pada Mei 2026 jauh tertinggal dibanding Filipina (312 ribu) dan Vietnam (398 ribu). Sentimen publik masih cenderung negatif (-18 dalam skala -100 sampai +100), dan banyak mantan scholar memilih menjauh selamanya.
Namun di sisi lain, fondasi yang lebih sehat sedang terbentuk diam-diam. AlphaBetty membuktikan studio lokal bisa membangun game blockchain yang dinikmati karena gameplay-nya, bukan karena spekulasinya. Apeiron menunjukkan bahwa esports berbasis blockchain bisa mencapai skala stadion virtual. Polygon menjadi infrastruktur de facto yang stabil dan murah. Regulasi Bappebti dan Komdigi, meskipun ketat, justru menyaring proyek-proyek toksik dan memberi ruang bagi pemain serius. Dan generasi baru Gen Z—yang tidak mengalami trauma 2022 secara langsung—mulai mengisi statistik watch hours di Twitch dan Streamlabs.
Pertanyaan yang tersisa bukan lagi “apakah NFT gaming akan mati” atau “kapan akan booming lagi,” melainkan “apakah Indonesia akan tetap menjadi pasar konsumen pasif, atau bertransformasi menjadi produsen studio kelas regional?” Jawabannya akan ditentukan dalam 24 bulan ke depan oleh tiga aktor: studio lokal yang berani mengambil risiko jangka panjang, regulator yang adaptif tanpa overprotektif, dan komunitas gamers yang cukup matang untuk membedakan game dari skema investasi. Tirto akan terus mengawasi.
FAQ
Apa itu tren NFT gaming Indonesia 2026 dan apa bedanya dengan era 2021?
Tren NFT gaming Indonesia 2026 ditandai pergeseran dari model play-to-earn spekulatif menjadi play-and-own berbasis gameplay. Berbeda dengan 2021 yang didominasi narasi “investasi cepat kaya” via Axie Infinity, lanskap 2026 menekankan kualitas game, kepemilikan aset opsional, dan blockchain Polygon sebagai infrastruktur utama. Jumlah pemain memang lebih kecil (142 ribu vs 870 ribu di puncak 2021), tetapi profil pemain lebih matang dan retensi lebih tinggi.
Mengapa Axie Infinity gagal di Indonesia setelah sempat booming?
Kegagalan Axie Infinity disebabkan kombinasi tiga faktor: pertama, peretasan jembatan Ronin pada Maret 2022 yang menghilangkan US$625 juta nilai aset pemain; kedua, perubahan tokenomics SLP yang memotong penghasilan harian scholar; ketiga, ketergantungan model ekonomi pada arus pemain baru yang tidak berkelanjutan. Di Indonesia, dampaknya diperparah karena banyak scholar berasal dari kalangan ekonomi menengah-bawah yang menjadikan Axie sebagai sumber penghasilan utama.
Game NFT apa saja yang aktif di Indonesia 2026?
Game NFT yang aktif di pasar Indonesia 2026 antara lain AlphaBetty (studio lokal Tangerang Selatan, puzzle-RPG di Polygon), Apeiron (studio Singapura Foonie Magus, god game), Axie Origins (versi free-to-play Axie Infinity), Pixels Online, Big Time, dan Illuvium. AlphaBetty dan Apeiron menjadi dua nama paling menonjol berkat strategi marketing yang fokus ke gameplay dan komunitas esports.
Apakah AlphaBetty buatan studio Indonesia?
Ya, AlphaBetty dikembangkan oleh AlphaBetty Studios yang berkantor di Tangerang Selatan. Game ini dirilis penuh di blockchain Polygon pada Februari 2026 setelah beta tertutup sejak Oktober 2024. Per Mei 2026, AlphaBetty mengklaim 68 ribu pemain aktif bulanan, dengan 41 persen pemain tidak menggunakan wallet kripto—membuktikan model “soft Web3” yang ramah pemain awam.
Mengapa Polygon menjadi blockchain dominan untuk NFT gaming Indonesia?
Polygon menjadi pilihan utama karena tiga alasan: biaya transaksi sangat murah (rata-rata di bawah Rp1.500 per transaksi), kemitraan strategis dengan studio Asia Tenggara termasuk subsidi gas US$3,5 juta untuk pengembang Indonesia dan Filipina, serta SDK yang lengkap untuk integrasi mobile. Per April 2026, sekitar 71 persen pemain game blockchain di Indonesia menggunakan Polygon.
Apakah NFT gaming legal di Indonesia 2026?
NFT gaming legal di Indonesia, tetapi dengan rambu-rambu ketat. Token kripto yang diperdagangkan harus masuk daftar putih Bappebti (612 token per Mei 2026). Iklan game blockchain wajib mencantumkan disclaimer “Bukan Sarana Investasi” sesuai Surat Edaran Komdigi 4/2024. Pajak penghasilan dari transaksi kripto, termasuk dari penjualan NFT gaming, dikenakan PPh final 0,1 persen sesuai PMK 68/2022.
Bagaimana prospek pasar NFT gaming Indonesia 2027-2028?
Niko Partners memproyeksikan pasar NFT gaming Indonesia tumbuh CAGR 18-24 persen hingga 2028, mencapai sekitar 280-340 ribu pemain aktif bulanan. Pertumbuhan ditopang generasi Gen Z yang tidak mengalami trauma 2022 secara langsung, ekspansi studio lokal seperti AlphaBetty dan Mandala Forge, serta stabilitas infrastruktur Polygon. Namun pertumbuhan tergantung pada konsistensi regulasi dan kemampuan industri menghindari skandal spekulatif baru.











