Teknologi EOR dan RFCC Pertamina: Solusi Nyata Menuju Swasembada Energi Indonesia
Teknologi EOR dan RFCC Pertamina: Solusi Swasembada Energi Indonesia 2026
Oleh: Redaksi Energi | 26 April 2026 | Estimasi baca: 12 menit
Indonesia berdiri di persimpangan penting dalam perjalanan energinya. Di satu sisi, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) domestik terus tumbuh seiring bertambahnya populasi dan ekspansi industri. Di sisi lain, laju produksi minyak nasional selama bertahun-tahun mengalami penurunan alami yang memaksa negara ini mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar. Situasi ini bukan hanya soal ekonomi—ia menyentuh kedaulatan dan ketahanan nasional. Namun di tengah tantangan tersebut, harapan besar muncul dari dua teknologi revolusioner yang sedang dikejar serius oleh Pertamina: teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery) di sisi hulu dan RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) di sisi hilir. Kombinasi keduanya digadang-gadang sebagai kunci nyata menuju swasembada energi Indonesia yang selama ini menjadi impian bersama.
Artikel ini membahas secara mendalam bagaimana kedua teknologi tersebut bekerja, apa yang sudah dan akan dicapai Pertamina, serta apa artinya bagi ketahanan energi dan harga BBM di Indonesia. Jika Anda ingin memahami mengapa teknologi EOR RFCC Pertamina swasembada energi Indonesia menjadi topik yang semakin krusial sepanjang 2026, baca terus sampai selesai.

Apa Itu IOR/EOR? Penjelasan Sederhana
Ketika sebuah sumur minyak pertama kali diproduksikan, tekanan alami dari reservoir mendorong minyak naik ke permukaan. Proses ini disebut primary recovery. Namun, tekanan itu tidak bertahan selamanya. Setelah beberapa waktu, minyak berhenti mengalir meski sebenarnya masih banyak yang tersisa di dalam batuan reservoir. Di sinilah peran IOR dan EOR.
IOR (Improved Oil Recovery) adalah istilah umum yang merujuk pada berbagai metode untuk meningkatkan perolehan minyak melebihi kemampuan alami reservoir. Sementara EOR (Enhanced Oil Recovery) adalah subset yang lebih spesifik—menggunakan bahan-bahan atau energi tambahan yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk mengubah sifat fisik dan kimia minyak agar lebih mudah diproduksikan.
Secara sederhana, bayangkan minyak dalam reservoir seperti mentega yang melekat di permukaan spons. Tanpa bantuan, sebagian besar mentega itu akan tetap menempel meski spons sudah diperas. Dengan EOR, kita menambahkan zat-zat yang “melepaskan” mentega dari spons tersebut sehingga jauh lebih banyak yang bisa diperas keluar.
Ada tiga kategori utama EOR:
- Thermal EOR: Menginjeksikan uap panas (steam injection) untuk memanaskan minyak kental agar mengalir lebih mudah. Umum digunakan untuk heavy oil.
- Gas EOR: Menginjeksikan gas seperti CO2, nitrogen, atau gas alam untuk mempertahankan tekanan dan melarutkan minyak.
- Chemical EOR: Menginjeksikan bahan kimia khusus—alkali, surfaktan, dan polimer—untuk mengurangi tegangan permukaan antara minyak dan air, sehingga minyak yang “terjebak” di pori-pori batuan bisa dipindahkan dan diproduksikan ke permukaan.
Data industri global menunjukkan betapa besarnya potensi EOR: di reservoir karbonat, teknologi EOR bisa meningkatkan produksi hingga 5 kali lipat, sementara di reservoir batupasir (sandstone) potensinya bahkan mencapai 10 kali lipat dibandingkan kondisi tanpa intervensi lanjutan. Angka ini bukan sekadar teori—ia adalah peluang nyata yang kini tengah dikejar Pertamina.
Teknologi Chemical EOR Pertamina di Blok Rokan
Di antara berbagai jenis EOR, Pertamina—melalui anak usahanya PHR (Pertamina Hulu Rokan)—memilih jalur Chemical EOR dengan metode ASP (Alkali-Surfactant-Polymer) injection. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Blok Rokan di Provinsi Riau adalah salah satu ladang minyak tertua dan terbesar di Indonesia. Lapangan ini sudah beroperasi sejak era 1940-an dan sebagian besar cadangannya berada di reservoir batupasir yang sangat cocok untuk Chemical EOR.
Bagaimana cara kerja ASP injection? Tiga komponen utamanya bekerja secara sinergis:
- Alkali bereaksi dengan asam lemak dalam minyak mentah untuk menghasilkan surfaktan alami secara in-situ, sekaligus menetralkan kontaminan yang dapat merusak kinerja surfaktan eksternal.
- Surfaktan (Surfactant) bertindak seperti sabun—ia mengurangi tegangan antarmuka (interfacial tension) antara minyak dan air hingga mendekati nol, sehingga minyak yang selama ini “tersangkut” di pori batuan menjadi mudah bergerak.
- Polimer (Polymer) meningkatkan viskositas air injeksi agar aliran fluida lebih seragam (meningkatkan sweep efficiency), mencegah air “menerobos” langsung ke sumur produksi tanpa mendorong minyak.
Yang membuat pencapaian ini bersejarah adalah fakta bahwa PHR akan mengkomersialisasikan Chemical EOR di Blok Rokan mulai Juni 2026—menjadikannya yang pertama di Indonesia. Ini bukan proyek pilot skala kecil, melainkan implementasi komersial penuh yang menandai era baru industri migas nasional.
Target yang ditetapkan sangat ambisius namun realistis secara teknis: PHR menargetkan peningkatan perolehan minyak sebesar +12% hingga +16% dari OOIP (Original Oil In Place)—yakni dari total minyak yang secara geologis tersimpan di reservoir sejak awal. Mengingat besarnya cadangan di Blok Rokan yang telah terakumulasi selama puluhan tahun, kenaikan persentase ini bermakna jutaan barel tambahan yang bisa diproduksikan dan dikirim ke kilang Pertamina untuk diolah menjadi BBM bagi rakyat Indonesia.
Inisiatif ini juga memiliki dampak signifikan dari sisi penghematan devisa. Setiap barel minyak mentah yang berhasil diproduksikan secara domestik melalui teknologi EOR adalah satu barel yang tidak perlu diimpor dengan harga pasar internasional yang fluktuatif—sebuah keuntungan strategis yang tidak ternilai di tengah ketidakpastian geopolitik global.
ERRA: Teknologi Pengeboran Inovatif Pertamina
Selain Chemical EOR, Pertamina juga mengembangkan teknologi pengeboran canggih yang disebut ERRA (Extended Reach Reservoir Access). Jika EOR berfokus pada cara “mengeluarkan” minyak dari batuan, ERRA berfokus pada cara “menjangkau” reservoir yang selama ini sulit atau tidak ekonomis untuk diakses dengan pengeboran konvensional.
ERRA pada dasarnya adalah teknologi pengeboran berarah (directional drilling) dengan presisi dan jangkauan yang jauh lebih tinggi dari standar. Menggunakan sistem kontrol digital canggih, satu sumur ERRA bisa menjangkau beberapa titik produksi di dalam reservoir dengan melengkungkan jalur bor secara terkontrol—horizontal, miring, atau bahkan berbentuk seperti cabang pohon.
Keuntungan utama ERRA meliputi:
- Efisiensi biaya: Satu sumur ERRA bisa menggantikan beberapa sumur vertikal konvensional, memangkas biaya pengeboran secara drastis.
- Akses ke reservoir sulit: Ideal untuk lapangan yang berada di bawah infrastruktur yang sudah ada, di bawah air, atau di area yang sulit diakses dari permukaan.
- Jejak lingkungan lebih kecil: Dengan lebih sedikit lokasi pengeboran di permukaan, dampak terhadap lingkungan sekitar dapat diminimalkan.
- Optimasi produksi: Dengan menjangkau zona produktif yang lebih luas, total perolehan minyak per sumur meningkat signifikan.
Integrasi ERRA dengan program Chemical EOR di Blok Rokan menciptakan pendekatan berlapis yang komprehensif: ERRA memastikan lebih banyak titik di reservoir bisa dijangkau dan diinjeksikan dengan larutan ASP, sementara Chemical EOR memastikan minyak yang berhasil dimobilisasi bisa diproduksikan secara efisien. Kombinasi ini adalah gambaran nyata dari inovasi teknologi hulu migas Indonesia yang semakin mature.
💡 Optimalkan Bisnis Digitalmu
Di tengah krisis global, bisnis online tetap jalan!
Boost sosmed kamu sekarang di BuzzerPanel
SMM Panel terpercaya #1 Indonesia — followers, likes, views mulai Rp100. Daftar gratis, top up mudah, hasil nyata.
Apa Itu RFCC dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Jika EOR adalah revolusi di sisi hulu (upstream)—bagaimana mengangkat lebih banyak minyak dari perut bumi—maka RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) adalah revolusi di sisi hilir (downstream): bagaimana mengolah minyak mentah tersebut secara jauh lebih efisien dan menghasilkan produk bernilai tinggi dari bahan yang selama ini terbuang percuma.
Dalam proses penyulingan minyak konvensional, minyak mentah dipanaskan dan dipisahkan menjadi berbagai fraksi berdasarkan titik didihnya—dari LPG ringan di bagian atas hingga residu berat di bagian bawah. Residu berat inilah yang menjadi fokus RFCC. Pada kilang konvensional tanpa RFCC, residu berat ini seringkali hanya bisa dijadikan produk bernilai rendah seperti bahan bakar bunker kapal atau aspal—jauh dari optimal secara ekonomi.
RFCC mengubah paradigma ini secara fundamental. Teknologi ini menggunakan katalis (catalyst) dalam kondisi fluidized—katalis berbentuk serbuk halus yang bergerak seperti fluida—untuk “memecah” (cracking) molekul hidrokarbon berat yang ada di residu menjadi molekul yang lebih ringan dan bernilai jauh lebih tinggi. Prosesnya berlangsung pada suhu tinggi (sekitar 500–550°C) dengan waktu kontak yang sangat singkat antara residu dan katalis.
Hasil akhirnya adalah produk-produk premium seperti:
- Gasoline (bensin) beroktan tinggi untuk kendaraan bermotor
- LPG (gas elpiji) untuk kebutuhan rumah tangga dan industri
- Light Cycle Oil (LCO) sebagai komponen campuran solar berkualitas
- Propylene sebagai bahan baku industri petrokimia
Di Indonesia, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) unit Balikpapan telah mengoperasikan unit RFCC sebagai bagian dari program modernisasi kilang nasional. Kehadiran RFCC di Kilang Balikpapan secara dramatis meningkatkan conversion rate—persentase minyak mentah yang berhasil diubah menjadi produk BBM bernilai tinggi. Ini berarti dari volume minyak mentah yang sama, kilang bisa menghasilkan lebih banyak bensin dan solar berkualitas tinggi, langsung mengurangi ketergantungan pada impor BBM jadi.
RFCC juga relevan dalam konteks kebijakan energi terbaru Indonesia. Dengan diberlakukannya kebijakan B50 (Biodiesel 50%) mulai 1 Juli 2026—dimana solar yang beredar di pasaran mengandung 50% campuran biodiesel berbasis minyak sawit—kualitas dan konsistensi komponen solar fossil dari kilang menjadi semakin penting. Unit RFCC memastikan komponen tersebut memiliki spesifikasi yang tepat untuk bisa dicampur secara optimal dengan biodiesel.

Kombinasi EOR + RFCC: Dampak ke Ketahanan Energi
Kekuatan sesungguhnya dari strategi energi Pertamina di 2026 terletak pada sinergi antara teknologi hulu dan hilir ini. Teknologi EOR RFCC Pertamina bukan dua inisiatif yang berdiri sendiri—keduanya adalah bagian dari rantai nilai terintegrasi yang dirancang untuk memaksimalkan nilai setiap tetes minyak bumi Indonesia.
Logika integrasinya sederhana namun powerful:
- EOR di Blok Rokan meningkatkan volume minyak mentah yang diproduksikan dari reservoir yang sudah matang.
- Minyak mentah tambahan ini dialirkan ke kilang—diprioritaskan ke kilang domestik Pertamina sesuai arahan SKK Migas yang mewajibkan seluruh minyak mentah dari KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dialokasikan untuk kilang Pertamina.
- RFCC di Kilang Balikpapan kemudian mengolah minyak mentah tersebut—termasuk fraksi residu berat yang sebelumnya bernilai rendah—menjadi produk BBM berkualitas tinggi dalam jumlah maksimal.
- BBM yang dihasilkan mendukung pemenuhan kebutuhan domestik, menekan impor, dan menjaga stabilitas harga.
Dampaknya terhadap ketahanan energi sangat nyata. Pertama, dari sisi volume: kombinasi EOR dan RFCC memungkinkan Indonesia “menciptakan” lebih banyak BBM dari sumber daya yang sudah ada—tanpa harus menemukan ladang minyak baru. Ini adalah efisiensi yang luar biasa. Kedua, dari sisi nilai ekonomi: mengurangi impor minyak mentah dan BBM menghemat devisa yang signifikan, memperkuat nilai tukar rupiah dan neraca pembayaran. Ketiga, dari sisi ketahanan di masa krisis: ketika harga minyak dunia melonjak atau rantai pasok global terganggu, kemampuan produksi dan pengolahan domestik yang kuat menjadi tameng yang melindungi konsumen Indonesia dari gejolak harga yang lebih parah.
Aspek terakhir ini sangat relevan mengingat kondisi geopolitik global yang semakin tidak menentu sepanjang 2025-2026. Ketegangan di berbagai kawasan penghasil minyak, fluktuasi harga komoditas, dan persaingan sumber daya antarnegara besar membuat ketergantungan pada impor energi menjadi risiko strategis yang nyata. Swasembada energi Indonesia bukan kemewahan—ia adalah kebutuhan.
Target Produksi PHE 2026 dan Dampak ke BBM
Angka-angka yang ditetapkan PHE (Pertamina Hulu Energi) untuk 2026 menggambarkan ambisi yang terukur dan berbasis teknologi. Target produksi minyak PHE 2026 ditetapkan sebesar 404 MBOPD (Thousand Barrels of Oil Per Day)—atau lebih dari 404.000 barel minyak per hari. Sementara untuk gas, targetnya adalah 2,4 BCFD (Billion Cubic Feet per Day).
Untuk memberikan gambaran skala, 404 MBOPD setara dengan sekitar 64 juta liter minyak mentah per hari. Jika berhasil dicapai dan dioptimalkan melalui teknologi RFCC, volume ini bisa menghasilkan puluhan juta liter bensin, solar, dan avtur untuk kebutuhan domestik setiap harinya.
Program Chemical EOR di Blok Rokan menjadi salah satu pilar utama dalam pencapaian target ini. PHR—yang mengelola Blok Rokan—merupakan kontributor produksi terbesar Pertamina. Keberhasilan implementasi Chemical EOR secara komersial mulai Juni 2026 diproyeksikan akan memberikan tambahan produksi yang signifikan, membantu PHR mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksinya dari lapangan yang secara alami mengalami decline (penurunan produksi).
Di sisi gas, target 2,4 BCFD juga penting untuk ketahanan energi secara luas. Gas bumi menjadi bahan baku produksi LPG yang dibutuhkan jutaan rumah tangga Indonesia, serta bahan bakar pembangkit listrik yang mendukung elektrifikasi nasional. Kombinasi antara produksi minyak dan gas yang kuat menciptakan ekosistem energi domestik yang lebih seimbang dan tangguh.
Kebijakan SKK Migas yang mengalokasikan seluruh minyak mentah dari KKKS ke kilang Pertamina juga memainkan peran penting. Kebijakan ini memastikan bahwa hasil kerja keras eksplorasi dan produksi—termasuk bonus dari program EOR—langsung mengalir ke sistem pengolahan domestik, bukan diekspor keluar negeri. Ini adalah bentuk kebijakan hulu-hilir yang terintegrasi dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Tingkatkan Engagement Media Sosialmu!
BuzzerPanel hadir dengan 1000+ layanan SMM: Instagram, TikTok, YouTube, Twitter, dan lainnya. Harga mulai Rp100!
Tantangan dan Roadmap Swasembada Energi Indonesia
Seberapa optimis pun gambaran di atas, penting untuk juga memahami tantangan nyata yang dihadapi dalam perjalanan menuju swasembada energi Indonesia. Kejujuran dalam memetakan hambatan adalah prasyarat dari perencanaan strategis yang baik.
1. Kompleksitas Teknis Chemical EOR
Implementasi Chemical EOR berskala komersial adalah operasi yang sangat kompleks. Formula ASP harus disesuaikan secara presisi dengan karakteristik geologi spesifik setiap lapangan—tidak ada formula universal. Variasi suhu, tekanan, salinitas air formasi, dan komposisi minyak mentah semuanya mempengaruhi efektivitas injeksi. Tim teknis PHR harus terus melakukan monitoring dan penyesuaian secara real-time untuk memastikan performa optimal.
2. Kebutuhan Investasi Besar
Baik program EOR maupun modernisasi kilang dengan RFCC membutuhkan investasi kapital yang sangat besar. Di tengah volatilitas harga minyak global, perencanaan keuangan jangka panjang menjadi tantangan tersendiri. Pertamina harus menyeimbangkan antara kebutuhan investasi untuk masa depan dengan kewajiban jangka pendek dan target setoran ke kas negara.
3. Ketersediaan SDM dan Teknologi
Chemical EOR adalah domain yang memerlukan keahlian sangat spesifik—dari insinyur reservoir, ahli kimia minyak, hingga spesialis operasi lapangan yang berpengalaman. Indonesia masih dalam proses membangun ekosistem SDM yang lengkap di bidang ini, meski program EOR di Blok Rokan sendiri diharapkan menjadi “universitas lapangan” yang mempercepat pembentukan kompetensi nasional.
4. Transisi Energi dan Dekarbonisasi
Investasi besar dalam teknologi fosil di era transisi energi menimbulkan pertanyaan tentang arah jangka panjang. Pertamina harus mengelola keseimbangan antara mengamankan pasokan energi saat ini—dimana minyak dan gas masih dominan—dengan mempersiapkan diri untuk energi terbarukan di masa depan. Strategi yang koheren diperlukan agar investasi EOR dan RFCC tidak menjadi “stranded assets” seiring percepatan transisi energi global.
Meski demikian, roadmap yang sedang dijalankan menunjukkan bahwa Pertamina bergerak ke arah yang benar. Komersialisasi Chemical EOR pertama di Indonesia pada Juni 2026, modernisasi kilang dengan RFCC, pengembangan ERRA, dan kebijakan alokasi crude domestik adalah pilar-pilar konkret yang bukan sekadar wacana di atas kertas. Untuk konteks saat ini, dengan kebutuhan energi nasional yang riil dan mendesak, teknologi EOR dan RFCC Pertamina adalah jawaban paling pragmatis dan paling siap-pakai yang tersedia.
Roadmap ke depan idealnya mencakup: ekspansi Chemical EOR ke lapangan-lapangan Pertamina lainnya pasca keberhasilan di Blok Rokan, integrasi teknologi digital (AI dan machine learning) untuk mengoptimalkan operasi EOR secara real-time, pengembangan kapasitas kilang melalui program RDMP (Refinery Development Master Plan), dan paralel dengan ini, investasi serius dalam energi terbarukan agar Indonesia tidak hanya mandiri dalam energi fosil tetapi juga memimpin transisi ke energi bersih di kawasan.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
1. Apakah Chemical EOR Pertamina di Blok Rokan sudah terbukti berhasil?
Ya. PHR telah menjalankan tahap uji coba (pilot project) sebelum memutuskan untuk maju ke komersialisasi penuh. Hasil pilot menunjukkan peningkatan perolehan minyak yang konsisten dan memvalidasi bahwa formula ASP yang dikembangkan cocok dengan karakteristik reservoir di Blok Rokan. Komersialisasi penuh dijadwalkan Juni 2026 dan menjadi yang pertama di Indonesia.
2. Apa perbedaan utama antara IOR dan EOR?
IOR (Improved Oil Recovery) adalah istilah umum yang mencakup semua metode untuk meningkatkan perolehan minyak di atas tingkat primary recovery, termasuk water flooding dan EOR. EOR (Enhanced Oil Recovery) adalah kategori dalam IOR yang secara spesifik menggunakan bahan tambahan—kimia, gas, atau panas—untuk mengubah karakteristik fisik-kimia minyak dan batuan reservoir agar minyak lebih mudah diproduksikan.
3. Bagaimana RFCC membantu mengurangi impor BBM Indonesia?
RFCC memungkinkan kilang Pertamina mengolah residu minyak berat—yang sebelumnya bernilai rendah—menjadi bensin dan solar berkualitas tinggi. Ini secara langsung meningkatkan volume BBM yang bisa diproduksi dari volume minyak mentah yang sama, sehingga mengurangi kebutuhan untuk mengimpor BBM jadi dari luar negeri. Dengan kata lain, RFCC meningkatkan “yield” atau hasil kilang secara keseluruhan.
4. Apa kaitannya teknologi EOR dengan kebijakan B50 yang mulai berlaku Juli 2026?
Kebijakan B50 (Biodiesel 50%) mengganti sebagian komponen solar fosil dengan biodiesel berbasis sawit. Meski mengurangi ketergantungan pada solar fosil secara proporsi, komponen solar fosil yang tersisa harus memiliki kualitas dan spesifikasi yang tepat untuk dicampur optimal dengan biodiesel. RFCC memastikan komponen fosil tersebut berkualitas tinggi. Sementara EOR memastikan pasokan minyak mentah domestik tetap cukup untuk kilang, sehingga Indonesia tidak harus mengimpor lebih banyak minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan komponen B50.
5. Apakah teknologi EOR ramah lingkungan?
Chemical EOR menggunakan bahan kimia dalam jumlah yang harus dikelola dengan hati-hati untuk mencegah kontaminasi lingkungan. Namun dari perspektif efisiensi sumber daya, EOR sebenarnya lebih ramah lingkungan daripada membuka lahan eksplorasi baru—karena ia memaksimalkan perolehan dari reservoir yang sudah ada tanpa perlu mengganggu ekosistem baru. Teknologi ERRA yang menyertainya juga meminimalkan footprint permukaan dari kegiatan pengeboran.
Kesimpulan: EOR dan RFCC sebagai Fondasi Kedaulatan Energi
Perjalanan Indonesia menuju swasembada energi adalah maraton, bukan sprint. Tidak ada solusi tunggal atau instan yang bisa membalik situasi dalam semalam. Namun, apa yang dilakukan Pertamina melalui teknologi EOR dan RFCC adalah langkah strategis yang tepat sasaran—memaksimalkan nilai dari aset yang sudah ada sebelum bergantung pada penemuan baru atau impor yang mahal.
Komersialisasi Chemical EOR pertama di Indonesia melalui PHR di Blok Rokan pada Juni 2026 adalah tonggak bersejarah yang menempatkan Indonesia di peta negara-negara yang menguasai teknologi pemulihan minyak lanjutan. Target produksi PHE sebesar 404 MBOPD minyak dan 2,4 BCFD gas memberi kerangka ambisi yang konkret dan terukur. Sementara RFCC di Kilang Balikpapan memastikan setiap tetes minyak yang diproduksikan dapat diubah menjadi produk bernilai tertinggi untuk rakyat Indonesia.
Dalam konteks kebijakan energi nasional 2026—dengan B50 yang mulai berjalan, alokasi crude domestik yang dioptimalkan, dan tekanan geopolitik global yang nyata—teknologi EOR RFCC Pertamina bukan sekadar inovasi teknis. Ia adalah pernyataan kedaulatan: bahwa Indonesia mampu, dengan teknologi sendiri dan sumber daya sendiri, mengelola kebutuhan energinya secara lebih mandiri dan bermartabat.
Jalan menuju swasembada energi Indonesia masih panjang dan penuh tantangan. Tetapi dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, SDM yang semakin kompeten, dan kebijakan yang semakin terintegrasi, arah perjalanan itu sudah semakin jelas. Dan di 2026, kita sedang menyaksikan salah satu babak paling penting dalam sejarah energi Indonesia ditulis—satu sumur, satu katalis, satu barel dalam satu waktu.
Referensi dan Sumber: Data produksi PHE 2026, laporan teknis PHR tentang Chemical EOR di Blok Rokan, informasi teknis RFCC Kilang Pertamina Balikpapan, kebijakan B50 pemerintah Indonesia, dan arahan SKK Migas tentang alokasi crude domestik.













